Semana Santa
Kali ini aku akan
nambahin konten APC yang mana ini akan membahas tentang ekspedisi . Ekspedisi
merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Atma Jaya Photography Club
(APC) setiap tahun. Ekspedisi 2016 ini akan diadakan di Larantuka yang
merupakan tempat event besar ibadah, adat dan sebuah perayaan budaya umat
Katolik yaitu Paskah yang membuat orang-orang dari seluruh dunia ingin
beribadah bersama disana. Kami memilih Larantuka karena ditempat ini ada salah
satu upacara yang paling terkenal yaitu upacara Semana Santa. Semana Santa
adalah salah satu perayaan Paskah yang rutin diadakan di Portugal. Dan
Indonesia perayaan tersebut hanya ada di tempat yang bernama Larantuka,
sehingga kota tersebut dijuluki Vatican Indonesia.
Kami dari Jogja naik bus
ke Bandara Juanda-sampe bandara Juanda,Surabaya-Naik pesawat ke kupang-15 Jam
naik kapal ke Larantuka.Suasana di kapal sangat ramai dan padat, kami hanya
mendapatkan wilayah dekat-dekat motor. Lelah, capek, lapar dan sayangnya kami
duduk diatas dek mesin.Rasanya itu maknyess...panasnya. Selama di
Larantuka,kami tinggal dirumah Reni di daerah Haras, Pertamina.Mamanya memberikan cemilan buat kami yaitu jagung titi. Jagung titi menjadi identitas untuk Larantuka.
Ini jagung titi yang digoreng, jadi seperti kerupuk
Ini jagung titi yang cuma ditubuk saja
Mulai Rabu sore kita sudah memotret prosesi pembuat lilin yang dibuat oleh Oma teman kami, Reni. Oma ini sudah lama membuat lilin. Lilin tersebut hasil daur ulang lilin dari tahun ke tahun dan lilin di makam.
Ini oma yang buat lilin untuk ditaruh di tikam turu.Lilin ini akan menerangi prosesi malam arak-arak Tuan Ma dan Ana.
Setelah motret prosesi pembuatan lilin, kami jalan-jalan, dan menemukan tempat bagus.Tempat yang disebut pelabuhan. Di pelabuhan ini banyak anak-anak yanng bermain sepeda ,memancing dan lain-lain.
Hari kedua yaitu hari kamis, Kamis agung, adalah pembukaan Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana.Kapela
Tuan Ma adalah tempat dimana Tuan Ma
(Patung Mater Dolorosa) bersemayam. Patung Mater Dolorosa ditemukan sekitar
tahun 1510 di Pantai Larantuka. Patung ini diduga berasal dari kapal Portugis
yang menjadikan Larantuka pusat perdagangan Portugis di wilayah Indonesia
bagian Tenggara. Kapela tersebut dibuka sebelum hari Wafat Isa Almasih yaitu
Kamis Putih sampai Jumat Agung. Selama setahun, Patung Mater Dolorosa hanya di
dalam Kapela sehingga umat katolik berbondong-bondong mendatangi Kapela untuk
Cium Tuan Ma. Hal itu sebagai bentuk rindu,
kunjungan
tobat, syukur dan harapan. Ritual pembukaan Kapela tersebut dibuka oleh
keturunan kerajaan Larantuka Don Lorenzo III yang bernama Don Andre III
Martinus Diaz Viera de Godenho (DVG) dan didampingi Confreria atau Laskar
Maria. Pembukaan Kapela tersebut jam 10.30 WITA dan ratusan umat Katolik sudah
menunggu giliran untuk dapat mencium Tuan Ma. Para Mama Muji masuk dalam
Kapela, mengelilingi ruangan. Mama Muji adalah ibu-ibu yang menyanyikan lagu
dalam bahasa Portugis. Mereka juga menghidupkan lilin dan membakar ujud (surat
permohonan yang diberikan umat Katolik). Prosesi penciuman Tuan Ma dilakukan
sangat khimat dengan diiringi laguan dari Mama Muji. Sebelum para peziarah atau
umat Katolik Cium Tuan Ma, terlebih dahulu dilakukan oleh Presidenti Conferia,
Raja Ama Koten dan keluarga, Tuan Mardomu Pintu Tuan Ma dan para ketua suku-suku
Semana dan Perangkat Kapela.Teriknya matahari tidak memudarkan kerinduan dan
semangat para umat Katolik yang datang ke Kapela untuk Cium Tuan Ma. Setelah
pembukaan Kapela Tuan Ma, dilanjutkan pembukaan Kapel Tuan Ana (Yesus) yang
ritual pembukaan Kapela tersebut dimulai pukul 13.00 oleh keturunan kerajaan Larantuka Don Lorenzo III yang
bernama Don Andre III Martinus Diaz Viera de Godenho (DVG) dan didampingi
Confreria atau Laskar Maria. Saat prosesi pembukaan di Kapela Tuan Ana, prosesi dilakukan lebih sakral
sehingga para pengunjung maupun umat Katolik tidak dapat memadati depan pintu
seperti Kapela Tuan Ma. Setelah pembukaan Kapela Tuan Ana, para peziarah
mengantri untuk Cium Tuan Ana.
Sebelum peziarah masuk terlebih dahulu dilakukan oleh Presidenti Conferia, Raja
Ama Koten dan keluarga, Tuan Mardomu Pintu Tuan Ma dan para ketua suku-suku
Semana dan Perangkat Kapela. Antrian di
Kapela Tuan Ana, tidak terlalu ramai dan cuaca saat itu mendung sehingga para
peziarah tidak kepanasan saat mengantri di Kapela Tuan Ana.
Hari ke 3 yaitu Jumat Agung, dimana hari ini dari siang sampai malam sangat padat jadwal dan aktivitas. Dari arak-arak siang sampai malam.
Arak-arak laut Tuan Ana (24/4/2016) yang dimulai jam 12.30. Pelabuhan Larantuka dipenuhi ribuan mata yang ingin melihat prosesi Tuan Ana (Yesus) untuk diantarkan ke dermaga.Tuan Ana dan Tuan Ma akan diarak bersama-sama ke Kapela Reinha Rosari
Kegiatan tikam turu, dimana lilin ditalikan ke kayu/bambu/rotan agar berdiri.
Prosesi arak-arak Tuan Ma dan Tuan Ana ke Katedral Reinha Rosari
Wanita yang berbaju biru itu adalah Ovos. Ia akan menyanyikan lagu ratapan dalam bahasa portugis
Ini adalah Lakademo. Pemilihan Lakademo sangat rahasia. Siapapun tidak ada yang tahu siapa orang dibalik baju putih itu
Ini adalah patung Mater Dolorosa atau Tuan Ma
Ini adalah Katedral Reinha Rosari
Malam itu terasa sangat damai dan khimat. Prosesi tersebut berjalan dengan lancar dan selesai pada waktu jam 01.30 pagi. Semana Santa 2016 berjalan dengan rapi dan tertib.























